Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sekretaris Dinkes Kota Kupang: Kasus Stunting di Kota Kupang Sudah Turun Hingga 16,6 Persen

Kamis, 05 Desember 2024 | 11:19 WIB Last Updated 2024-12-11T12:16:54Z

 

foto by Timex

SUARAFLOBAMORA.COM – Kasus stunting di Kota Kupang sudah turun hingga 16,6 persen ditahun 2024. Angka tersebut berdasarkan hasil pengukuran bulan timbang pada bulan Februari 2024. 


Hal itu disampaikan Sekertaris Dinas Kesehatan Kota Kupang, I Gusti Agung Ngura Suarnawa, S.K.M, Kes saat diwawancarai media pada Selasa, 16 April 2024 lalu.


“Artinya menurun sedikit dibandingkan hasil akhir 2023 17,2 persen. Mudah-mudahan kita bisa mengejar penurunan target ini,”ujarnya.


Menurut I Gusti, untuk percepatan penurunan stunting Dinkes Kota juga melakukan berbagai aksi konvergensi dengan program aksi bergizi bagi remaja wanita disekolah maupun pada bayi yang baru lahir dan ibu menyusui.


“Putri minum tablet tambah darah, wanita usia subur diperiksa kesehatannya. Pada saat hamil dia juga diberikan tablet tambah darah dan bayi baru lahir diberikan inisiasi menyusui dini dan asi ekslusif selama 6 bulan,” jelasnya.


Operasi timbang pada Tahun 2023 kondisi stunting pada bulan Agustus 2023 di Kota Kupang berada pada posisi 17,2 persen atau empat ribu 19 anak stunting, lebih rendah dibandingkan data di Tahun 2022 sebanyak 5.497 anak stunting atau 21,5 persen.


Tujuan dari kegiatan ini adalah salah satu upaya penanggulangan stunting. Harapannya setelah ini adalah tingkat keakuratan pengukuran berat badan bagi anak-anak semakin meningkat sehingga dapat lebih dini dalam mendeteksi stunting.


Timbangan di posyandu digunakan untuk menentukan berat badan anak balita yang akan tercatat dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak ( KIA ) maupun Kartu Menuju Sehat (KMS). Dengan mengetahui berat badan anak, maka menjadi salah satu parameter untuk menilai kondisi perkembangan kesehatan anak, sehingga dapat ditentukan perlakuan lanjutan terkait dengan status gizi, imunisasi dan lain-lain.


Jika timbangan yang digunakan tidak standar, maka data kesehatan anak yang tertuang di dalam Buku KIA maupun KMS juga tidak akurat. Dan berakibat pada perlakuan kesehatan terhadap anak menjadi kurang tepat.


Terjadi penurunan dari segi presentase pada 23.382 sasaran, yang dapat diukur sebanyak 96 persen sehingga ditahun 2024 ini kondisi stunting di Kota Kupang tersebut semakin mengalami penurunan hingga 16,6 persen.


Selanjutnya di bulan Oktober 2024, Pemerintah Kota Kupang dalam kaitan dengan pencegahan stunting, melakukan kegiatan Aksi 5 dengan fokus pada pembinaan dan peningkatan kapasitas kader, untuk aksi bersama turunkan kasus stunting di Kota Kupang.


“Aksi 5 berfokus pada pembinaan dan peningkatan kapasitas para kader, yang merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan intervensi gizi terintegrasi di tingkat desa dan kelurahan. Para kader memiliki peran penting dalam memastikan keluarga berisiko stunting mendapatkan layanan yang tepat,” kata Penjabat (Pj) Wali Kota Kupang, Linus Lusi, S.Pd., M.Pd dalam sambutannya saat membuka kegiatan Aksi 5 bulan lalu (24/10) di Hotel Aston Kupang.


Menurut Linus, kegiatan Aksi 5 merupakan bagian dari upaya sinergis semua pihak dalam memastikan masa depan generasi penerus bangsa yang sehat dan cerdas. Stunting adalah masalah serius dan menjadi prioritas nasional. Pemerintah pusat menargetkan penurunan prevalensi stunting menjadi 14% pada tahun 2024.


“Di tingkat kota, kami sangat berkomitmen untuk menyukseskan program ini melalui berbagai intervensi spesifik dan sensitif. Target kita 6 bulan ke depan dapat menurunkan angka stunting dari 6000-an menjadi 2000an,” ujarnya.


Lanjutnya, sementara Aksi 6 berfokus pada penguatan manajemen data terkait stunting, untuk memastikan bahwa kebijakan dan program yang dilaksanakan berbasis pada data yang akurat dan mutakhir.


Linus Lusi juga menekankan pentingnya peran Camat dan Lurah serta Perangkat Daerah terkait dalam keberhasilan program penurunan stunting di Kota Kupang.


“Camat dan lurah harus memastikan bahwa kader yang terlibat dalam program ini berfungsi secara optimal dan menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi aktif,” tambahnya.


Linus juga menekankan pentingnya data yang akurat tentang stunting, untuk merencanakan intervensi yang tepat sasaran, sehingga target penurunan stunting dapat berjalan sesuai dengan rencana.


Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Kupang, drg. Francisca Johana Ikasasi dalam laporan panitia menyampaikan, bahwa  Program Kampung Keluarga Berkualitas berfokus pada peningkatan kualitas hidup keluarga di kelurahan melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pelestarian lingkungan.


Perkembangan program ini di tingkat nasional mencakup berbagai indikator peningkatan kualitas hidup keluarga, seperti penanganan stunting yang melibatkan berbagai sektor, serta kemajuan dalam pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan sosial.


Ia menjelaskan, bahwa tujuan dari pelaksanaan pertemuan tersebut yaitu memastikan tersedianya dan berfungsinya kader yang dapat membantu pemerintah kelurahan dalam melaksanakan intervensi gizi terintegrasi di tingkat kelurahan.


Selain itu, kader-kader ini juga akan membantu dalam penyediaan dan mempermudah akses data yang diperlukan untuk pengelolaan program penurunan stunting.


Pertemuan ini juga menjadi momentum untuk Launching Program Inovasi DPPKB dalam sinergitas pelaksanaan kampung keluarga berkualitas, yang melibatkan perangkat daerah terkait guna mendukung upaya bersama dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. ***