MATARAM – Agus Buntung (22), seorang pemuda disabilitas asal Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan tegas membantah tuduhan pemerkosaan yang disangkakan padanya. Meskipun sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda NTB, Agus merasa bahwa tuduhan tersebut tidak mungkin terjadi mengingat keterbatasannya.
Dengan raut wajah penuh keprihatinan, Agus menyampaikan perasaan tak berdayanya atas tuduhan tersebut. Ia menunjukkan kepada wartawan bagaimana kehidupannya yang sangat terbatas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Agus, yang mengalami disabilitas fisik, merasa sangat sulit untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang sehat.
"Dengan kondisi saya seperti ini, bagaimana saya bisa melakukan kekerasan seksual atau pemerkosaan? Saya bahkan kesulitan untuk membuka celana atau baju saya sendiri," ujar Agus dengan suara bergetar, dikutip pada Minggu, 1 Desember 2024.
Agus, yang terus dirawat dan dimandikan oleh orangtuanya, juga menambahkan, "Saya masih dibantu orangtua untuk buang air besar dan kecil. Semua aktivitas saya bergantung pada bantuan mereka. Bagaimana saya bisa melakukan hal yang dituduhkan ini?"
Meski merasa tak berdaya, Agus tetap bersikukuh bahwa tidak mungkin bagi dirinya untuk melakukan tindakan kekerasan seksual, mengingat kondisinya yang terbatas. Ia juga menekankan bahwa, jika benar ada korban, korban tersebut seharusnya bisa melawan dengan mudah karena Agus tidak mampu melakukan gerakan bebas.
Dalam keterangannya, Agus meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk memberikan dukungan kepadanya dalam menghadapi tuduhan ini. Ia bahkan berharap agar Presiden Prabowo Subianto bisa mendengarkan suaranya dan memberikan keadilan.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Prabowo, ingin menunjukkan karya seni saya, dan memperlihatkan kemampuan saya dalam bermain gamelan. Saya ingin beliau bangga dengan kemampuan saya meski dalam keterbatasan," ungkap Agus, sambil berharap agar kasus ini segera mendapat solusi yang adil.
Ibunda Agus: "Kaget dan Tidak Percaya"
I Gusti Agus Ariparni, ibu dari Agus, juga menyatakan kekagetannya atas tuduhan tersebut. Sebagai orang tua yang telah merawat Agus sejak lahir dengan segala keterbatasannya, Ariparni merasa terkejut dan tidak percaya dengan tuduhan yang dialamatkan kepada anaknya. Menurutnya, Agus hanya bisa beraktivitas terbatas dan sangat bergantung pada bantuan orang lain untuk kegiatan sehari-hari.
"Saya sangat kaget dan terkejut. Saya tidak percaya anak saya bisa dituduh seperti ini. Harapan saya, kasus ini bisa cepat selesai. Kalau bisa damai, agar anak saya bisa beraktivitas seperti biasa, kuliah, bermain gamelan lagi. Saat ini dia hanya bisa di rumah," ujar Ariparni.
Ariparni juga menjelaskan bahwa penetapan tersangka terhadap anaknya terkesan mendadak. Sebelumnya, Agus telah melaporkan sebuah kasus pencemaran nama baik yang dilakukan oleh salah satu akun media sosial di Instagram. Setelah laporan tersebut, Agus justru ditangkap oleh polisi saat sedang bermain gamelan di sebuah acara hajatan.
Kronologi Kejadian
Kasus yang menyeret Agus berawal ketika ia berada di depan sebuah rumah di kawasan Udayana, Mataram. Agus, yang pada saat itu sedang meminta tolong kepada seorang perempuan untuk diantarkan ke kampus, kemudian berboncengan dengan perempuan tersebut menggunakan sepeda motor. Namun, tak lama setelah itu, Agus justru dibawa ke sebuah homestay yang terletak di daerah sekitar, yang kemudian memicu masalah dan dugaan kekerasan seksual.
Agus menegaskan bahwa dirinya tidak tahu menahu mengenai peristiwa yang terjadi setelah perjalanan tersebut. Ia merasa bingung dan tidak bisa memahami bagaimana ia bisa terlibat dalam kejadian yang disangkakan kepadanya.
Di akhir pernyataannya, Agus kembali menegaskan bahwa ia hanya ingin hidup seperti biasa. Ia ingin melanjutkan kuliah dan bermain gamelan, serta memperoleh kehidupan yang lebih baik meski dengan keterbatasan fisiknya. Agus berharap masyarakat dapat memahami kondisinya dan memberikan dukungan moral agar ia bisa melalui masa-masa sulit ini.
"Saya hanya ingin keadilan. Saya ingin hidup normal, seperti orang lain," tutupnya dengan penuh harap.
Kasus yang menimpa Agus Buntung, pemuda disabilitas asal NTB, masih dalam proses penyelidikan. Masyarakat berharap agar pihak berwenang dapat menyelesaikan kasus ini dengan adil, dan memberikan kesempatan bagi Agus untuk menjalani hidup seperti sedia kala. Seiring berjalannya waktu, banyak yang berharap agar kasus ini segera mendapatkan kejelasan, demi keadilan bagi semua pihak yang terlibat.